Road to Kumoh National Institute of Technology

Standard

sulit menggerakan jemari, merangkai kata. padahal ide, gagasan dan pengalaman sudah ada di kepala. setiap dari kita butuh trigger. buat saya untaian frase indah dari film selalu membuat saya tergugah untuk menulis.

Time takes it all, whether you want it to or not – The Green Miles

well, time flies, sudah setahun lebih sejak saya pertama kali menginjakan kaki di negeri gingseng. ya. satu tahun. kini saya sudah berada di Indonesia, dan tak dipungkiri saya rindu moment tersebut. and its pretty unfair saya tidak pernah bercerita kenapa atau bagaimana saya kesana. mumpung inget, mari nulis.

#1 Announcement

19 Februari 2014, saya bersama rekan-rekan international class mendapat kabar yang cukup mengejutkan. program exchange student yang sudah digadang-gadang sejak Oktober 2013 (read:dan tidak ada kabarnya) tiba-tiba mencuat. akan diumumkan nama-nama mahasiswa yang terpilih membawa nama Telkom University ke Korea Selatan. i still can remember the way my fellow classmates holding their breath when Mr Rino came into the class. It always give me chill. tetep bukan sesuatu yang bisa dibayangkan nama saya terpanggil.

singkat cerita saya bersama 7 orang rekan saya terpilih untuk program ini. and as long as we know, its a promising program. biaya selama kita disana ditanggung dari mulai tuition fee, asrama, makan siang dan malam di cafetaria kampus (prasmanan lagi…). biaya yang harus kita siapkan adalah “bagaimana kita sampai disana”. pasport, visa dan pesawat. sumua tampak indah bukan? sampai kita tahu bahwa perkuliahan spring semester disana sudah dimulai tanggal 1 Maret 2014 dan berkas identitas kami ber-8 harus masuk seminggu sebelumnya, tanggal 23 Februari 2014. ya, 5 hari lagi. i dont even have a passport !

20140225_102556

singkat cerita, menyiapkan “apa yang harus ditinggalkan” dan “apa yang akan di jalani” saat saya belajar di negeri orang adalah hal yang menguras emosi. dan semua harus saya lakukan dalam waktu kurang dari 10 hari. namun

saya belajar, sebesar apapun seseorang, seganas apapun masalah yang dihadapi. ibu selalu menjadi tempat bersandar yang ternyaman di semesta. mungkin sedikit tersaingi oleh Lexington Upholstery Salon Sofa (google it). hehe

banyak detail yang mungkin tak bisa diceritakan. tapi terimakasih yang sebesar-besarnya untuk keluarga, dosen dosen, rekan rekan di Himpunan Mahasiswa Teknik Industri yang luar biasa. penyesalan terbesar saya adalah meninggalkan rekan saya, M Hilman Kusnawan, Ketua HMTI 2011, setelah amanah yang sudah dipercayakan di HMTI. after all, We make choices, but in the end our choices make us. 🙂

#2 First Experience

27 Maret  2014.

Leaving my own country to go abroad is new for me. bisa dibilang ini pengalaman pertama (cos kali pertama ke negara lain saat saya bahkan belum bisa mengingat). namun bukan hanya itu pengalaman pertama di hari itu. di hari itu pula anak muda tanggung ini mendapat kesempatan sebagai supir pengantin. ya. supir pengantin. anak muda yang bahkan belum punya SIM A! mendapatkan kesempatan tersebut di pernikahan dari kakak sepupu bareng gede yang sudah saya kenal bahkan sejak saya baru mengingat dunia membuat saya sangat bersyukur, karena hari pernikahan itu merupakan pengalaman terakhir penulis melihat Bu’de. sebelum saya sempat menginjakan kaki kembali ditanah air. 2 bulan setelah keberangkatan penulis. beliau menghembuskan nafas terakhir setelah berjuang melawan kanker. pun eyang saya seminggu berselang. Semoga Allah SWT melapangkan kubur meraka dan menjaukan dari segala siksa. Amin.

#3 Incheon

20140627_054236 20140627_054239

If you guys watch myself at the time when i arrive at incheon, you will see 4 years old boys in the candy store for the first time. yeah, tidak ada cara yang lebih mudah untuk mendeskripsikannya. segalanya bukan hanya tampak baru namun juga melegakan. emosi yang terus dikuras selama 10 hari. penuh ketidakpastian. finnaly its happened. bocah kurus (yang pulang-pulang jadi gendut) dari cibinong ini akan mengenyam pendidikan dan pengalaman di negeri park ji sung. i loved every moment of that day. every detail of it. the extreamly cold temperature. the money changer. the airport trolley. the airport subway. so its begin, 4 bulan petualangan, pembelajaran dan pendewasaan. the journey that changed the way i see the world. 🙂

Let’s start asking why

Standard

Sudah bedebu sekali ini laman ini, lama tak menuangkan ide, pengalaman dan pemikkiran dalam untaian kata. bukan perkara mudah memang menjaga konsistensi diri, apalagi dikala tenggelam dalam rutinitas duniawi. maklum sebagai mahasiswa

pejuang skripsi yang masih disibukan dengan 19 sks kuliah dan praktikum. tapi itu bukan alasan saya rasa, saya pikir. pernah rasanya melewati periode lebih produktif daripada 6 bulan ke belakang.

apa saya sudah kehilangan semangat ? tidak juga.

apa kurang waktu untuk menulis? jelas tidak.

apa tidak ada bahan untuk ditulis? banyak sekali hal menarik yang luput dari geliat jari ini.

lalu kenapa mandek? wait a minute..

Kenapa harus nulis?

than i realized that all this time i ask a wrong question. i am not lack of resource. what i was lack is purpose.

“Why you persue something is equally important as what you persue” – Louis Bloom, Nightcrawler (2014)

index

pertanyaan yang fundamental yang selalu luput dari kegiatan duniawi sebagian besar insan di bumi Allah. Pun nyatanya jawabannya tak sesederhana sang pertanyaan. butuh waktu. butuh proses. tapi saya sudah punya jawaban pembuka akan pertanyaan tersebut. So, Why ?

Karena saya selalu ingin belajar menjadi pendengar yang baik untuk kisah hidup saya sendiri

karena memori akal ada batas-nya, banyak pelajaran yang terlupa, hikmah yang terbuang, serta kesalahan yang terulang. diri ini belum jadi ‘pendengar’ yang baik.

so, yet the answer of that particular question is my lifetime quest but i can start to become “good listener”.