Let’s start asking why

Standard

Sudah bedebu sekali ini laman ini, lama tak menuangkan ide, pengalaman dan pemikkiran dalam untaian kata. bukan perkara mudah memang menjaga konsistensi diri, apalagi dikala tenggelam dalam rutinitas duniawi. maklum sebagai mahasiswa

pejuang skripsi yang masih disibukan dengan 19 sks kuliah dan praktikum. tapi itu bukan alasan saya rasa, saya pikir. pernah rasanya melewati periode lebih produktif daripada 6 bulan ke belakang.

apa saya sudah kehilangan semangat ? tidak juga.

apa kurang waktu untuk menulis? jelas tidak.

apa tidak ada bahan untuk ditulis? banyak sekali hal menarik yang luput dari geliat jari ini.

lalu kenapa mandek? wait a minute..

Kenapa harus nulis?

than i realized that all this time i ask a wrong question. i am not lack of resource. what i was lack is purpose.

“Why you persue something is equally important as what you persue” – Louis Bloom, Nightcrawler (2014)

index

pertanyaan yang fundamental yang selalu luput dari kegiatan duniawi sebagian besar insan di bumi Allah. Pun nyatanya jawabannya tak sesederhana sang pertanyaan. butuh waktu. butuh proses. tapi saya sudah punya jawaban pembuka akan pertanyaan tersebut. So, Why ?

Karena saya selalu ingin belajar menjadi pendengar yang baik untuk kisah hidup saya sendiri

karena memori akal ada batas-nya, banyak pelajaran yang terlupa, hikmah yang terbuang, serta kesalahan yang terulang. diri ini belum jadi ‘pendengar’ yang baik.

so, yet the answer of that particular question is my lifetime quest but i can start to become “good listener”.

Advertisements

PEMIMPIN

Standard

Note : Artikel ini berusaha dibuat senetral mungkin. mogon maaf bila ada kontennya yang mengganggu atau menyalahi peraturan masa tenang kampanye.

Pada 1 Juli 2014, Ba’da shalat zuhur berjamaah bertempat di masjid Baitul Ihsan Bank Indonesia, saya berkasempatan mendengarkan materi yang disampaikan oleh Menpora periode tahun 2004-2009, Adhyaksa Daud. Beliau menyampaikan, dari hadist yang diriwayatkan Ibnu Bathal Al-Qurthubi, akan ada satu masa kebodohan, saat orang-orang yang amanah dihujani fitnah, namun orang-orang khianat diberi amanah. Saat kefitnahan dilemparkan ke dalam hati dan pembunuhan merajalela. Salah satu penyebabnya adalah Pemimpin.

3 Juli 2013, Masih segar diingatan kita semua bagaimana Abdel Fatah Al-Sisi, seorang panglima perang mesir yang disumpah atas jabatannya dengan Al-Quran diatas kepalanya untuk melindungi Negaranya, memimpin kudeta militer atas presiden sah Mohamed Mohamed Morsi Isa al-Ayyat, dan meruntuhkan kedaulatan ikhwanul muslimin. Setidaknya 1.400 orang tewas sejak Juli 2013 dan lebih dari 15.000 orang dipenjara. Terhitung Juni 2013, Tak berhenti disitu, kini ratusan alim ulama ikhwanul muslimin beserta pengikutnya dihukum mati atas dasar kesetiaannya kepada presiden Morsi.

Throwback 65 tahun kebelakang, bagaimana beberapa orang pemimpin dunia yang jumlahnya bisa dihitung dengan jari menjadi dalang melayangnya 50 juta nyawa dalam perang dunia ke 2. Nama-nama seperti Adolf Hitler, Benito Mussolini, Hirohito, Franklin Delano Roosevelt dan Stalin kini terabadikan bersama sejarah dunia. Sepanjang sejarah dapat dipastikan bahwa seorang pemimpin besar menjadi agen perubahan baik itu kearah yang lebih baik maupun sebaliknya.

Pada zaman kekhalifahan, umat muslim menganggap sebuah kursi kepempinan sebagai beban berat yang sangat dihindari bukan justru diperebutkan. Beratnya amanah seorang pemimpin sebenarnya telah tertera dalam Al-Qur’an surat Al-Azhab ayat 72 :

إِنَّا عَرَضْنَا الأمَانَةَ عَلَى السَّمَاوَاتِ وَالأرْضِ وَالْجِبَالِ فَأَبَيْنَ أَنْ يَحْمِلْنَهَا وَأَشْفَقْنَ مِنْهَا وَحَمَلَهَا الإنْسَانُ إِنَّهُ كَانَ ظَلُومًا جَهُولا – See more at: http://www.tafsir.web.id/2013/04/tafsir-al-ahzab-ayat-63-73.html#sthash.hMGOgsEW.dpuf
إِنَّا عَرَضْنَا الأمَانَةَ عَلَى السَّمَاوَاتِ وَالأرْضِ وَالْجِبَالِ فَأَبَيْنَ أَنْ يَحْمِلْنَهَا وَأَشْفَقْنَ مِنْهَا وَحَمَلَهَا الإنْسَانُ إِنَّهُ كَانَ ظَلُومًا جَهُولا – See more at: http://www.tafsir.web.id/2013/04/tafsir-al-ahzab-ayat-63-73.html#sthash.hMGOgsEW.dpuf

Sesungguhnya Kami telah mengemukakan amanat kepada langit, bumi dan gunung-gunung, maka semuanya enggan untuk memikul amanat itu dan mereka khawatir akan mengkhianatinya, dan dipikullah amanat itu oleh manusia. Sesungguhnya manusia itu amat zalim dan amat bodoh,(QS. 33:72)

Namun, kepemimpinan juga TIDAK BOLEH KOSONG. Dalam sebuah hadis yang diriwayatkan Abu Dawud, Nabi Muhammad SAW bersabda, “Apabila ada tiga orang yang mengadakan perjalanan maka hendaknya mereka menjadikan satu di antara mereka sebagai pemimpin”.Hadis ini mengandung pesan, untuk masalah yang sepele saja harus ada kepemimpinan, apalagi untuk masalah yang lebih besar.

IMG_00002182_edit[1]

Dalam satu kesempatan Ustadz Tifatul Sembiring memaparkan 4 karakter seorang pemimpin. mungkin kita semua sering mendengar 4 karakter ini namun hanya memahaminya sebatas terminologi.

1. Siddiq

Siddiq dalam terminologi berarti benar, namun dalam bahasa kekinian lebih bisa diartikan sebagai BERKARAKTER. Apa yang seorang pemimpin ucapkan selalu sesuai dengan apa yang dipikirkan dan sekuat tenaga  direalisasikan sepanjang waktu selama nafasnya merupakan nafas seorang pemimpin. Kalau seorang pemimpin itu tegas dan keras, ia akan tegas dari dalam hatinya, dalam setiap tindakannya, dalam caranya mengambil keputusan, dan dalam perannya dalam implementasi keputusannya. begitupun kalau seorang pemimpin itu seorang yang bijaksana dan Arif. Itulah yang disebut KARAKTER.

Seorang pemimpin boleh gagal dalam sebuah proyek, dalam pengelolaan, atau dalam apapun karena pemimpin yang baik bukanlah pemimpin yang tak pernah gagal. Namun dalam hal Berkarakter, sekalipun seorang pemimpin tidak boleh gagal a.k.a Mencla-mencle! Seorang ayah yang gagal dalam berkarakter akan menghasilkan anak-anak yang bermental tempe. Seorang guru yang gagal dalam berkarakter mungkin menjadikan anak didiknya hebat secara intelektual namun akan gagal dalam moralitas hingga akhirnya menjadi generasi perusak bangsa.

2. Fatonah

Fatonah arti secara terminologi berarti cerdas. Dalam bahasa kepemimpinan mungkin dapat direpresentasikan dengan kata VISIONER. seorang pemimpin yang fatonah adalah pemimpin yang tahu tujuannya secara jelas, mampu menjabarkan apa saja yang harus ia lakukan untuk mencapainya dan semua dalam orientasi waktu jangka panjang. Secara karakter seorang pemimpin boleh sederhana dan merakyat (no mention), tapi diharamkan untuk seorang pemimpin untuk berfikir sederhana. Masalah yang kini mendera negeri ini adalah masalah-masalah yang kompleks dan melibatkan banyak kalangan. Sehingga kebutuhan negeri ini akan pemimpin yang Fatonah semakin besar untuk mengurai masalah-masalah dan merumuskan solusi-solusi konkretnya.

3. Amanah

Amanah dalam arti secara terminologi berarti dapat dipercaya. Dalam konteks kepemimpinan Amanah bisa diartikan sebagai BERKOMPETEN. Dalam setiap situasi masyarakat bernegara, ada kompetensi dasar yang dibutuhkan seorang pemimpin pada situasi tersebut. kompetensi ini tentu tidak diukur berdasarkan jumlah kantung di kemeja putih anda (no mention). Kompetensi ini yang nantinya menjadi bekal untuk menyelesaikan masalah-masalah dalan situasi tersebut.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Jika amanat telah disia-siakan, tunggu saja kehancuran terjadi.” Ada seorang sahabat bertanya; ‘bagaimana maksud amanat disia-siakan? ‘ Nabi menjawab; “Jika urusan diserahkan bukan kepada ahlinya, maka tunggulah kehancuran itu.” (H.R BUKHARI – 6015)

Lalu apakah ketika masalah yang dihadapi sebuah negara adalah krisis moneter maka presiden yang dibutuhkan adalah seorang profesor ekonomi? tentu saja tidak. ingatlah bahwa didunia ini AHLINYA BELUM TENTU JURUSANNYA. Keahlian adalah passion bukan skill. Seorang mahasiswa jurusan hukum universitas Harvard bisa saja merupakan ahli software engineering dunia dikemudian hari. Ya, itulah Bill Gates pendiri dan pemilik Microsoft.

4. Tabligh

Dalam ilmu terminologi adalah menyampaikan. Dalam proses kepemimpinan mungkin jauh lebih dikenal dengan KEMAMPUAN MENGGERAKAN ORANG LAIN. Seorang pemimpin besar dengan pencapaian besar diberkati dengan kemampuan Tabligh hebat. Masih terngiang di para veteran perang Jerman, ketika pidato-pidato Hitler membakar semangat mereka. Juga pada saat pidato Martin Luther King,Jr, “I Have a Dream”, menggerakan proses kesetaraan ras dan penghentian diskriminasi di Amerika. Visi besar seorang pemimpin tidak akan terlaksana tanpa Tabligh.

EPILOG

Banyak masyarakat apatis kita yang selalu beranggapan “tidak memilih” juga merupakan pilihan. saya sependapat.

Sebagai manusia kita bebas memilih dalam setiap kesempatan karena hidup sepenuhnya adalah pilihan. Namun ingatlah sebagai manusia kita juga tidak akan bisa memilih konsekuensi dari pilihan kita.

Sebagai masyarakat cerdas dan umat muslim yang mencintai Rasulnya sudah sepantasnya kita menggunakan hak pilih kita karena dalam islam sebuah sepemimpinan merupakan suatu keharusan dan kita harus menentukan sikap. Semoga 9 Juli nanti merupakan Lecutan kemajuan bangsa ini dan kemenangan kita sebagai masyarakat demokrasi. Amin!

 

“Biasa”

Standard

Ini postingan pertama, namun sudah lama jadi renungan selama ini. kita semua sedikit banyak pasti sudah menghadapi “senang” dan “sedih” nya dunia bukan. banyak hal seperti lulus perguruan tinggi negeri, kena PHK, kena sanksi pendidikan, dapet THR, istri melahirkan, dapet promosi, tidak mencapai target dan masih banyak lagi. ngga usah dikategorikan mana yang “senang” dan mana yang “sedih” kita semua sudah bisa dengan mudah membedakannya bukan?

sekarang coba sekarang kita bayangkan 3 jam kebelakang dari detik anda membaca postingan ini. apakah mengalami salah satu hal yang sebutkan diatas? atau adakah momen besar dalam hidup yang terjadi pada rentang waktu itu? bisa jadi 99% jawabannya tidak ada apa apa. Karena kalau ada mustahil dengan santainya baca postingan orang cupu yang satu ini. hahaha

Ya, justru sebagian besar dari hidup kita adalah rutinitas sederhana yang sangat ‘Biasa’. Sarapan, berangkat sekolah, ibadah shalat 5 waktu bagi yang muslim, bercengkrama dengan teman teman, tidur, dan bahkan buang air. hahaha bener toh? tertawalah, karena dari titik ini kita semua mungkin telah salah.

Menurut saya, Orang hebat bukan orang yang banyak mendapatkan “senang”-nya dunia

Dan bukan orang yang gigih, tegar dan tangguh menghadapi terjangan “sedih”-nya dunia.

Bukan juga orang yang memiliki pengalaman banyak mengarungi keduanya dibandingkan orang lain kebanyakan.

Lalu siapa yang pantas disebut hebat?

Bagi saya orang hebat adalah orang yang menjalani hidup dan sangat sedikit memandangnya sebagai hal yang “biasa”

Ya.

Dia menjalani dunia seperti rutinitas orang kebanyakan, dia makan, bernafas, tertawa, belajar, melihat, duduk…, tapi di setiap nafasnya dia hadirkan rasa syukur akan apa yang rasakan detik itu diatas alam sadarnya. dia memikirkan perjuangan petani saat mengunyah nasi bungkus makan siangnya.

mengingat kasih sayang ibundanya selama ini setiap ia menyentuhkan dahinya ke punggung tangan ibunya setiap hari, mengingat proses fotosintesis saat dia melihat daun, saat berpapasan adik kecil lucu ia mendoakannya agar menjadi anak yang cerdas dan berbakti. saat terjebak macet, tanpa harus mengeluh ia berfikir keras bagaimana dia akan mengurai macet jika suatu saat nanti ia menjadi pengambil keputusan terkait. setiap panca indranya peduli dan terus bergerak mencari hikmah. setiap fenomena kehidupan ia hadirkan diatas alam sadarnya.

Setiap nafasnya adalah renungan, doa, usaha dan solusi.

Dan Baginya dalam hidup ini tidak ada hal yang “biasa”

semoga suatu saat nanti kita semua bisa menjadi seseorang semacam itu. sedikit demi sedikit..