Choose

Standard

“I always had one foot out the door, and that prevented me from doing a lot of things, like thinking about my future and… I guess it made more sense to commit to nothing, keep my options open. And that’s suicide. By tiny, tiny increments.” – High Fidelity

image

Advertisements

Hakikat “Sukses”

Standard

Bismillahirahmannirahim. Setelah sekian lama tak menuangkan ide dan gagasan diri, alhamdulillah penulis telah menyelesaikan studi penulis di program studi teknik industri. gurih rasanya jika sebuah artikel opini mewakili kegalauan hati. Musim lebaran 2015 telah berlalu. Hangatnya silaturahmi dan nikmatnya opor ayam sudah menjadi sajian lezat tahunan penikmat hari raya. Begitupun dengan penulis yang merasakan nikmatnya berkumpul dengan handai taulan dari pulau seberang dan hikmah selalu ada disetiap menit hidup ini jika kita membuka hati serta jiwa untuk selalu belajar.

Rasanya sudah bosan dan linu telinga ini mendengar kata “rangking”, “sarjana”, “nikah”, “lulus”, “kerja” terselip di setiap pertanyaan handai taulan yang seringkali dipadukan dengan kata tanya yang dipadukan. Bak sebuah siklus tahunan, hal-hal ini lah yang seringkali ditanyakan sang penanya saat bertemu sanak yang telah lama tak jumpa. pengenyam bangku sekolah akan tentu akan ditanya prestasi sekolah yang diwakili ranking kelas, mahasiswa akan ditanya mengenai kelulusannya, apa pekerjaan nya, kapan akan menikah, dst. lebih lebih kalau ada anggota keluarga yang akhirnya “sukses”, jadi anggota DPR, dapat pangkat, masuk televisi, menjadi pesohor ,berkesempatan pergi kuar negeri dalam rangka study ataupun kerja dll. hingga pada akhirnya yang sudah merasa “sukses” malalui itu semua akan jadi seorang penanya. Ya, kira-kira begitulah siklusnya.

Penanya (Pe) ; Ditanya (Di)

Pe : “Di, kamu kapan ranking berapa? Kemarin itu R**** alhamdulillah ranking 1 loh, di SMA paling bagus lagi di sana”

Di : “Yah kan R**** kan ga sekolah di bandung, di bandung kan susah SMA ** aja ranking 3 udah sukur”

Pe : “Yah pokoknya kalian berdua contolah mas Y***, dulu sekolah ranking 1 terus, sekarang paling maju, sering keluar negeri sama pak menteri, kalo maen ke komplek perkantoran sana siapa yang ga kenal, tinggal ngomong keluarganya Y*** orang manggut-manggut. Jangan kaya H***.”

Ilustrasi diatas menggambarkan bagaimana setiap individu di negeri ini (termasuk penulis), dari belianya didorong, dituntut dan didukung secara moral dan material untuk “sukses” dan menjadi  kebanggaan keluarga dengan jalan mendapatkan peringkat/ranking 1, 2 & 3, Masuk Perguruan Tinggi, terutama di program-program yang terkenal sulit masuknya, Lulus Tepat waktu dengan IP memuaskan/cum laude, Bekerja sehingga mapan finansial, memiliki rumah (tidak ngontrak), punya kendaraan dsb. Tentunya hal hal diatas memang sangat penting dan baik untuk menjadi pencapaian pribadi. tapi celakanya bila hal-hal tersebut menjadi tujuan utama hidup ini.

Coba renungkan perilaku disekitar, bagaimana setelah Ujian Nasional meluap-luapnya kebahagiaan ribuan siswa lepas dari potensi rasa malu yang mereka dapatkan jika tidak lulus. mencoret-coret baju sampai bikini party merupakan bukti “sukses”(?) mereka. Rasa takut akan malu jika tidak lulus juga membuat mereka melakukan segala cara. mulai dari mencontek ringan sampai mengeluarkan uang puluhan juta untuk kunci jawaban.

pun sama, bagi yang mencoba untuk melaksanakan sistem dengan kemampuan sendiri yang pada akhirnya menjadi barisan sakit hati, berbagai keluhan dilakukan sampai menantang menteri pendidikan dasar dan menengah mengerjakan Soal Ujian Nasional. Terakhir, siswa yang tidak lulus pada akhirnya menjadi barisan pesakitan, berjuang keras lepas dari jeratan depresi. tidak sedikit bahkan yang memutuskan untuk menutup cerita hidupnya.

Naik tingkatan situasi tidak jauh berbeda, dimana masuk perguruan tinggi dengan program-program yang terkenal sulit masuknya menjadi “sukses” tertinggi murid SMA sebagai pembuktian pada orangtua dan lingkungannya. berbagai postingan diungkapkan melalui media postingan media sosial menandakan kelegaan yang memuncak serta rasa syukur. kadang menggunakan bahasa yang sangat tidak menjaga perasaan rekan rekannya yang sebagian pada akhirnya menerima pil pahit tidak dapat mendapatkan jurusan idamannya. tidak jarang si pesakitan juga menjadi buah bibir pemanis hari lebaran di lingkungan keluarga.

Coba renungkan antrian panjang setiap digelarnya gelaran pencaian bakat di televisi, apapun itu. lautan manusia rela antre berjam-jam, berbalut keringat, mengelurkan tenaga terbaiknya. karena sudah terbukti bahwa hal ini menjanjikan popularitas, loncatan karir dan finansial dalam hitungan bulan. jalan “sukses” yang relatif cepat juga sering kali  dimanfaatkan oleh pihak pihak yang tidak bertanggung jawab seperti prostitusi dan perdagangan manusia.

Bagaimana kini penanaman nilai “sukses” materil pada sedari belia membuat generasi muda bangsa secara membabi buta mengejar gelar, pengakuan orang, popularitas, dan kemapanan sebagai “sukses” dunia, lalu buta kepada nilai nilai luhur kehidupan itu sendiri yang sangat jarang diapresiasi. boleh penulis tekankan .

Kapan terakhir kali kita memuji adik, anak, keponakan, teman atau cucu kita karena kerja kerasnya, karena senangnya ia membaca buku, karena kebiasaan disiplinnya, karena prilaku berbaginya pada sesama, karena kejujurannya, karena ibadahnya, karena kreatifitasnya.karena kegigihannya. karena keteguhannya memegang amanah. karena kerendahan hatinya. karena usahanya menjaga perasaan orang lain. karena kesiapannya menerima tanggung jawab. karena keberaniannya mengakui kesalahan dan meminta maaf.

jangan salahkan murid mencontek, membeli kunci jawaban membeli skripsi karena “sukses” baginya adalah lulus.

jangan salahkan kalau makin sedikit sarjana yang tidak menjadi solusi bangsa,pembuka lapangan kerja baru dan memilih berkumpul di ibu kota karena “sukses” baginya adalah mapan finansial.

jangan salahkan hakim, penegak hukum dan pemangku kepentingan bila hukum tajam ke bawah tumpul keatas karena suap yang merajalela, karena “sukses” baginya adalah punya mobil dan rumah. (note: rumah sekarang sangat mahal)

So, jangan salahkan pemimpin bangsa dan wakil rakyat jika tidak amanah, karena “sukses” baginya adalah dihormati orang dan kedudukan tinggi.

Celaka duabelas! karena jika kita muslim, ini adalah bukti kita telah meniadakan peran Allah SWT dalam kesuksesan kita. sebagai muslim kita meng “illah”-kan pencapaian sebagai hal yang mendominasi hati ini sehingga menghalal kan segala cara. Nauzibillah. Lalu apa solusinya? penegakan hukum ? politik kebijakan anggaran? perubahan kurikulum? penanaman efek jera?

So Terakhir, penulis ingin menyampaikan opini sekaligus menyimpulkan tulisan diatas.

JIka pendidikan karakter sumber daya manusia belum menjadi ruh setiap kebijakan bangsa maka setiap solusi yang diajukan akan berbuntut pada masalah baru.

Sulit memang jika kita banyangkan secara makro apa yang harus dilakukan bangsa ini untuk “sembuh”. tapi seperti Aa Gym bilang. yuk 3M.

Mulai Dari Diri sendiri,

Mulai Dari Hal yang Kecil,

Mulai Dari Sekarang.

yuk mulailah malu jika malas, mulai malu jika berbuat curang, mulailah malu jika tidak disiplin, mulailah malu jika tidak kreatif dan inovatif, mulailah malu jika tidak bekerja keras.dan bangalah dengan displin, banggalah dengan kerja keras, banggalah dengan kreatifitas dan kegigihan, banggalah dengan kepedulian dan banggalah atas kemauan untuk bergerak. karena apapun hasilnya sesungguhnya anda telah “sukses”.  Kemapanan finansial, kedudukan, kehormatan, popularitas merupakan sesuatu yang akan mengikuti langkah anda disaat nilai nilai luhur telah mendarah daging dalam perilaku manusia.

dan tulisan ini adalah bukti “sukses” saya. doakan penulis agar bisa selalu istiqomah. amiin.

Samhuri Ikbal Pradana S.T.

Note : opini mengenai solusi makro akan penulis sampaikan pada kesempatan selanjutnya.